Episode ke-7 drama BGN mulai klimak. Haji Dadan cs resmi ditahan Kejagung. Tangan diborgol, memaki rompi pink, dipamerkan anak buah Sanitiar Burhanuddin ke publik. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Akhirnya momen yang ditunggu-tunggu netizen Indonesia datang juga. Setelah bertahun-tahun berlatih menjadi penyidik dadakan di kolom komentar, analis forensik di grup WA ormas, dan hakim agung di Facebook, akhirnya mendapat tontonan yang membuat jempol berhenti mengetik dan beralih menjadi tepuk tangan. Haji Dadan Hindayana, Lodewyk Pusung, dan Sony Sonjaya resmi mengenakan rompi tahanan Kejagung. Lengkap dengan borgol yang selama ini lebih sering dilihat rakyat di sinetron ketimbang di kasus pejabat kelas atas.
Peristiwa ini bergerak lebih cepat dari pembalap Veda Ega Pratama. Selasa malam, 2 Juni 2026, Presiden Prabowo Subianto mencopot Dadan dari jabatan Kepala BGN bersama dua wakilnya, Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya. Mensesnega Prasetyo Hadi menyampaikan alasan resmi berupa evaluasi kinerja selama 1,5 tahun, mulai dari masalah SOP, tata kelola, hingga kualitas makanan program MBG. Belum sempat kardus di kantor dipacking, Presiden langsung menunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN yang baru.
Rakyat mengira cerita selesai sampai di situ. Ternyata itu baru trailer.
Rabu dini hari, 3 Juni 2026, sekitar pukul 04.00 WIB, tim penyidik Tindak Pidana Khusus Kejagung bergerak. Jam segitu sebagian warga masih berdebat dengan nyamuk, sebagian lagi masih mimpi punya rumah subsidi yang tidak bocor. Namun bagi tiga petinggi BGN itu, subuh datang membawa episode berbeda. Mereka dijemput untuk pemeriksaan.
Yang paling membuat netizen heran, Sony Sonjaya sempat tidak berada di rumah dan diduga berusaha menghindar ke luar Jakarta. Namun sekitar pukul 10.00 WIB, tim berhasil menemukannya di wilayah Jawa Barat. Netizen langsung heboh.
Sementara pemeriksaan berlangsung, kantor BGN di Jakarta Pusat juga digeledah. Fokusnya tidak main-main, ruang pimpinan lantai 2, 3, dan 8. Rakyat membayangkan petugas masuk ruangan sambil mencari barang bukti, sementara printer, map, dan lemari arsip mendadak merasa gugup.
Menjelang sore, status ketiganya resmi naik menjadi tersangka dan langsung ditahan. Ketika foto rompi tahanan beredar, lini masa mendadak lebih ramai dari konser musik gratis. Banyak menyebut ini sebagai evolusi tercepat dalam birokrasi, malam dicopot, pagi diperiksa, sore diborgol.
Inti perkara yang didalami adalah dugaan jual beli titik SPPG. Bagi yang belum tahu, SPPG adalah dapur penyedia makanan untuk program MBG. Dugaan yang beredar menyebut adanya praktik memperjualbelikan lokasi atau izin pendirian SPPG. Padahal, pendaftaran seharusnya terbuka dan gratis. Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman membenarkan, informasi mengenai praktik tersebut menjadi salah satu faktor penting pencopotan Dadan.
Belum cukup di situ, Kejagung juga mendalami dugaan penggelembungan harga pengadaan barang, termasuk motor listrik dan kaos kaki. Di sinilah rakyat mulai kehilangan arah logika. Program peningkatan gizi anak tiba-tiba ditemani motor listrik dan kaos kaki. Mungkin ada rapat yang terlalu kreatif hingga nutrisi, kendaraan, dan peralatan kaki dipertemukan dalam satu semesta anggaran.
Padahal BGN mengelola dana sekitar Rp71 triliun APBN 2025, Rp268 triliun APBN 2026. Angka sebesar itu cukup untuk membuat kalkulator berkeringat. Ironisnya lagi, sekitar Maret 2025, BGN justru menandatangani kerja sama dengan Kejagung untuk mengawal anggaran MBG agar tidak bocor. Ibarat seseorang memanggil tukang servis untuk memastikan atap rumah tidak bocor, lalu beberapa waktu kemudian justru ditemukan dugaan kebocoran dari ruang tamunya sendiri.
Kini rakyat menunggu kelanjutan ceritanya. Sebab untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kolom komentar dan kenyataan tampak berjalan di jalur yang sama. Itu, bagi netizen Indonesia, rasanya lebih langka dari harga cabai yang stabil. (*)
Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar









Comment