SAMBAS, MEDIA KALBAR – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, masih menjadi ancaman serius. Berdasarkan data aplikasi SiPongi sejak 1 Januari hingga 30 Juli 2026, sebanyak 971 titik panas terdeteksi di 67 desa yang tersebar pada 15 kecamatan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sambas, Alwindo Djuhardi Alwi, S.T., mengatakan luas lahan yang terindikasi terbakar berdasarkan penghitungan citra satelit telah mencapai 2.228,20 hektare.
Titik panas terbanyak berada di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, dengan 195 titik. Posisi kedua ditempati Desa Selakau Tua, Kecamatan Selakau Timur, sebanyak 167 titik, disusul Desa Santaban, Kecamatan Sajingan Besar, dengan 85 titik panas.
Pada Kamis, 30 Juli 2026, titik panas masih terdeteksi di Desa Sebubus dan Temajuk, Kecamatan Paloh. Di Sebubus, luas lahan terbakar diperkirakan mencapai dua hektare.
Pemadaman sebelumnya dipimpin langsung oleh Dandim bersama Danramil Paloh, Polsek, KSDA Resort Paloh, KPH, Manggala Agni, dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Operasi pemadaman kemudian dilanjutkan oleh personel Koramil, Polsek, dan MPA.
Namun, petugas menghadapi kendala berat karena tidak tersedia sumber air di sekitar lokasi. Api terpaksa dipadamkan secara manual dengan memapas atau memukul titik api menggunakan ranting.
“Karena sumber air tidak tersedia, pemadaman dilakukan dengan cara memapas api menggunakan ranting. Angin juga cukup kuat sehingga api cenderung meluas,” kata Alwindo.
BPBD Kabupaten Sambas telah berkoordinasi untuk meminta bantuan helikopter water bombing ke Desa Sebubus. Namun, dua helikopter yang tersedia masih diprioritaskan menangani kebakaran yang lebih luas di Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya.
Api Berjarak 50 Meter dari Rumah Warga
Situasi semakin mengkhawatirkan karena sejumlah kebakaran terjadi sangat dekat dengan permukiman, di antaranya di Sungai Bening dan Buduk Sempadang. Di Buduk Sempadang, lokasi kebakaran dilaporkan hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumah warga.
Selain mengancam kesehatan akibat paparan asap, pergerakan api perlu diawasi ketat agar tidak mencapai rumah penduduk. Apabila api terus meluas dan mengancam keselamatan masyarakat, evakuasi warga harus segera dilakukan.
Untuk mencegah kejadian berulang, BPBD bersama TNI dan Polri akan memperkuat langkah preventif dan edukatif. Jajaran Polsek dan Koramil juga telah mulai memanggil para pemilik lahan yang terbakar.
Pemilik lahan diminta memberikan klarifikasi dan membuat surat pernyataan agar tidak kembali melakukan pembakaran serta bertanggung jawab menjaga lahannya.
“Langkah pencegahan tetap harus dilakukan. Dalam penanganan karhutla, langkah preventif dan edukatif akan kami lakukan bersama TNI dan Polri,” ujar Alwindo.
Dalam operasi lapangan, BPBD turut dibantu BMKG, Kodim, Polres, Polsek, Koramil, Manggala Agni, KPH, KSDA Paloh, KSDA Sajingan, perusahaan perkebunan kelapa sawit, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta MPA. Dinas Kesehatan juga menurunkan personel untuk memeriksa kondisi kesehatan petugas sebelum melakukan pemadaman.
Berdasarkan luas lahan yang terbakar, Sambas menempati peringkat keempat di Kalimantan Barat. Ketapang berada di urutan pertama dengan luas 8.095,85 hektare, disusul Kubu Raya 7.913,05 hektare dan Mempawah 6.129,53 hektare.
Alwindo menilai penanganan karhutla di Kabupaten Sambas terbantu oleh soliditas dan koordinasi tim gabungan di lapangan. Meski demikian, ancaman kebakaran belum sepenuhnya berakhir.
BPBD Sambas menyarankan BNPB menambah jumlah helikopter water bombing di Kalimantan Barat. Penambahan armada dinilai penting agar pemadaman udara dapat menjangkau daerah lain yang kesulitan melakukan pemadaman darat akibat keterbatasan sumber air.(Rai)










Comment