Pontianak, Media Kalbar
Musim haji seharusnya menjadi panggung pengabdian. Tempat orang-orang terbaik bekerja dalam diam, memikul beban berat agar jutaan tamu Allah dapat menjalankan ibadah dengan tenang. Namun, di tengah suasana sakral itu, publik dikejutkan oleh sebuah video yang beredar luas. Seorang petugas haji dari BTH-16 merekam keluhan yang kemudian menyebar ke mana-mana.
Dalam video tersebut ia menyampaikan, sekitar 30 orang rombongannya tidak diangkut oleh maktab sesuai jadwal. Mereka yang semula dijadwalkan berangkat pagi baru mendapatkan kepastian setelah salat zuhur. Bahkan, menurut pengakuannya, rombongan yang terdiri dari ketua kloter, dokter, hingga petugas lainnya akhirnya berjalan kaki sekitar enam kilometer menuju hotel. Ia menyebut mereka ditelantarkan dan tidak dipedulikan oleh pihak maktab. Di akhir pernyataannya, ia meminta pemerintah merespons kejadian tersebut agar penyelenggaraan haji tidak kembali meninggalkan cacat seperti tahun-tahun sebelumnya.
Sekilas, video itu tampak seperti jeritan kelelahan. Namun semakin dipikirkan, semakin muncul pertanyaan yang mengganggu, bukankah yang berbicara itu seorang petugas haji?
Di situlah letak ironi yang terasa pahit. Seorang petugas haji pada hakikatnya adalah pelayan jemaah. Ketika muncul masalah di lapangan, tugas utamanya bukan menambah kegaduhan, melainkan menyelesaikan kegaduhan. Bukan memperbesar kepanikan, melainkan memperkecilnya. Bukan mengangkat kamera terlebih dahulu, tetapi mengangkat telepon untuk berkoordinasi dengan pihak yang berwenang.
Bayangkan jika setiap persoalan teknis dalam penyelenggaraan haji langsung dipublikasikan dalam bentuk video keluhan. Sedikit keterlambatan menjadi drama nasional. Sedikit salah koordinasi berubah menjadi kiamat administrasi. Sedikit masalah transportasi menjelma seolah-olah seluruh sistem telah runtuh. Padahal tugas seorang petugas adalah menjadi bagian dari solusi, bukan ikut berdiri di barisan penonton sambil meniup peluit protes.
Yang lebih disayangkan, video seperti itu berpotensi menimbulkan persepsi yang tidak proporsional di tengah masyarakat. Publik yang tidak mengetahui kondisi sebenarnya bisa mengira seluruh penyelenggaraan haji sedang berantakan. Padahal banyak pihak justru menilai musim haji tahun ini berlangsung relatif baik. Tidak banyak kasus besar yang muncul ke permukaan. Tidak ada gelombang masalah yang meledak seperti tahun-tahun tertentu di masa lalu.
Salah satu faktor yang sering luput dari perhatian adalah peran KBIHU dari seluruh Indonesia. Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah selama ini menjadi pasukan senyap yang bekerja jauh dari sorotan kamera. Mereka mendampingi, membimbing, menenangkan, bahkan sering kali menyelesaikan persoalan jemaah sebelum masalah itu sempat menjadi berita. Mereka bekerja tanpa panggung, tanpa mikrofon, tanpa video viral.
Karena itu sudah saatnya ada evaluasi yang lebih serius. Kementerian yang mengurusi penyelenggaraan haji perlu memberikan penghargaan kepada KBIHU yang benar-benar terbukti memberikan pelayanan terbaik. Mereka yang bekerja profesional layak mendapat apresiasi. Sebaliknya, pihak-pihak yang tidak mampu menjalankan tugas pelayanan secara baik juga harus mendapatkan evaluasi tegas.
Dalam dunia pelayanan, penghargaan dan sanksi adalah dua sayap yang harus terbang bersamaan. Yang baik diberi reward. Yang buruk diberi punishment. Bila perlu, pihak yang terbukti tidak becus melayani jemaah tidak lagi dilibatkan pada musim haji berikutnya. Sebab haji bukan laboratorium percobaan untuk belajar menjadi profesional. Haji adalah pelayanan terhadap tamu Allah yang telah menunggu bertahun-tahun, mengumpulkan uang puluhan tahun, dan menaruh harapan seumur hidup.
Enam kilometer memang melelahkan. Cuaca panas memang menyiksa. Salah koordinasi memang menjengkelkan. Namun yang jauh lebih melelahkan adalah ketika publik menyaksikan orang yang seharusnya menyelesaikan masalah justru tampil sebagai pengeluh utama. Di situlah tragedi kecil itu berubah menjadi ironi besar. Bukan karena ada yang berjalan kaki menuju hotel, melainkan karena yang berjalan kaki itu adalah mereka yang seharusnya menjadi penunjuk jalan. (*)
Penulis: Rosadi Jamani







Comment