by

Ketum RELLA Kalbar: Antrean Air Bersih Pontianak Musim Kemarau 2026 Adalah “Deja Vu” 1990-an

“Sudah Puluhan Tahun, Masalah Intrusi Air Asin & PDAM Tak Kunjung Tuntas”

PONTIANAK, Media Kalbar

Musim kemarau panjang sejak Juli hingga akhir Agustus 2026 membuat masyarakat mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Depot pengisian air minum isi ulang di Kota Pontianak dipenuhi antrean warga untuk membeli air.

Hal ini disampaikan Ketua Umum RELLA Kalbar, Iin Irwansyah di Pontianak, Senin (31/8/2026).

Menurutnya fenomena antre air bersih di Kota Pontianak khususnya dan Kalimantan Barat umumnya sudah pernah terjadi pada dekade 1990-an, saat kemarau panjang melanda.

“Masih menjadi memori bagi kita semua. Untuk mencari atau mendapatkan air bersih untuk keperluan rumah tangga, bahkan untuk mandi pun seperti mencari emas. Dan kini siklus itu kembali terulang,” ujar Iin.

“Habis Bencana, Habis Pula Evaluasi”
Ia menyayangkan kejadian ini terus berulang tanpa dijadikan pelajaran oleh penguasa.

“Mengapa semua kejadian akan bencana yang pernah kita rasakan tidak dijadikan pelajaran dan bahan evaluasi oleh penguasa. Habis bencana habis lah semua, seakan pengalaman empiris dan data-data kejadian langsung disimpan di laci meja,” katanya.

Padahal para ahli bahkan BMKG sudah mengingatkan akan bencana musim kemarau panjang akibat siklus El Nino.

Akar Masalah: Intrusi Air Asin & Ketergantungan Air Hujan
Iin menyebut ada 3 masalah klasik yang belum selesai hingga 2026:

1. Intrusi Air Asin ke Sungai Kapuas: Setiap kemarau panjang, debit Sungai Kapuas menyusut drastis. Air laut dari muara merangsek masuk ke hulu. Akibatnya bahan baku air baku PDAM menjadi asin dan tidak layak minum. “Masalah ini sudah menjadi bahasan bertahun-tahun, namun masih juga tidak terselesaikan.”
2. Ketergantungan pada Air Hujan: Mayoritas masyarakat Kalbar sangat mengandalkan air hujan. Saat kemarau berbulan-bulan, persediaan di bak penampungan atau tandon warga habis total.
3. Keterbatasan Infrastruktur PDAM: Di tahun 90-an jaringan pipa belum merata dan kapasitas IPA terbatas. “Namun sekarang sudah era tahun 2026, apakah hal itu tetap dijadikan alasan.”

Antrean Jeriken Kembali Muncul
Dua tiga hari terakhir, titik-titik antrean mulai terlihat di Pontianak. Mulai dari depot air minum hingga tangki-tangki mobil PDAM yang membagikan air bersih dibanjiri warga membawa jeriken dan ember. Mereka antre di sumber air publik, tangki bantuan pemerintah, menara air kota, atau membeli dari penjual air swasta.

“Kondisi krisis air bersih seperti ini bukan kejadian pertama. Pemandangan antrean jeriken ini menjadi siklus tahunan apabila kemarau lebih dari 30 hari,” ujarnya.

“kemarin kita antre minyak, antre Elpiji, sekarang antre air, mana peran pemerintah baik kota maupun provinsi,” tambahnya.

Harap Pemerintah “Siap Payung Sebelum Hujan
Iin berharap Pemerintah Kota Pontianak khususnya dan Pemerintah Provinsi pada umumnya bisa mengambil langkah konkret.

“Belajar dari masa lalu. Ibarat kata siap payung sebelum hujan, jangan sampai ibarat pepatah, sudah kejedut baru terasa. Kita berharap masalah ini tidak berlarut dan pemerintah diharapkan bisa hadir. Jangan bencana yang berulang terjadi, masalah yang sama itu-itu lagi yang kita hadapi, seakan semua hanya jalan di tempat,” pungkasnya. (Amad)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed