Pontianak, Media Kalbar
Di zaman ketika orang lebih cepat percaya video “cara kaya dalam tiga menit” dibanding nasihat dosen satu semester, mahasiswa di Pontianak justru memilih duduk serius mengikuti Folago Academy Campus Workshop Pontianak di Kampus UNU Kalimantan Barat awal Mei lalu. Sebuah pemandangan yang cukup langka di republik yang kadang lebih menghormati seleb joget ketimbang mahasiswa yang sedang berpikir.
Workshop yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB itu diselenggarakan oleh Program Studi Manajemen bersama Marhamah dan dihadiri dosen Fakultas Ekonomi. Tema yang diangkat terdengar sederhana, bagaimana memanfaatkan media sosial menjadi sumber penghasilan. Namun di negeri yang sebagian warganya masih menganggap internet hanya tempat perang komentar dan mengirim stiker “pagi semangat”, tema ini sebenarnya revolusioner.
Mahasiswa yang hadir tampak antusias mendengarkan pembahasan tentang dunia content creator, TikTok ecosystem, personal branding, hingga strategi monetize konten. Mereka belajar bahwa sebuah video pendek ternyata bisa menjadi aset ekonomi, bukan sekadar tempat pamer kopi susu dan galau berjamaah. Di era digital, kreativitas bisa berubah menjadi pemasukan. Sayangnya, sebagian masyarakat masih percaya sukses hanya bisa lahir dari dua hal: jadi pejabat atau ikut acara pencarian bakat sambil menangis di depan kamera.
Workshop ini seperti tamparan elegan bagi mentalitas lama yang masih menganggap media sosial cuma tempat hiburan receh. Padahal, di luar sana, banyak anak muda menghasilkan uang dari ide sederhana, konsistensi, dan kemampuan membaca tren. Sementara sebagian orang masih sibuk menulis komentar “pertama” di setiap unggahan artis, generasi kreatif justru sedang membangun masa depan lewat konten edukatif, hiburan, bahkan storytelling digital.
Dalam sesi diskusi, mahasiswa aktif bertanya tentang cara membangun audiens, menjaga konsistensi, hingga menghadapi algoritma media sosial yang kadang lebih misterius daripada isi janji kampanye. Narasumber membagikan pengalaman nyata bahwa menjadi kreator digital bukan sekadar soal viral semalam, melainkan tentang proses panjang membangun identitas dan kualitas karya.
Menariknya, kegiatan ini memperlihatkan bahwa kampus tidak lagi bisa hidup hanya dengan teori fotokopian dan presentasi PowerPoint berisi tulisan 48 paragraf per slide. Dunia berubah cepat. Industri digital bergerak seperti roket, sementara sebagian sistem pendidikan kadang masih berjalan seperti printer kantor kelurahan: berisik, lambat, lalu macet di tengah jalan. Karena itu, workshop seperti ini menjadi penting. Kampus harus menjadi tempat mahasiswa belajar menghadapi realitas, bukan sekadar tempat mengejar tanda tangan absensi.
Folago Academy Campus Workshop Pontianak memberi pesan sederhana namun kuat: generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton perkembangan digital. Mereka harus ikut bermain, menciptakan, dan mengambil peluang. Sebab masa depan hari ini tidak lagi menunggu orang yang paling tua atau paling banyak bicara, tetapi mereka yang paling adaptif dan kreatif.
Mungkin, di tengah dunia yang penuh flexing palsu, filter berlebihan, serta motivator dadakan yang hidup dari kata “cuan”, mahasiswa Pontianak hari itu sedang belajar sesuatu yang jauh lebih penting, bagaimana menggunakan teknologi bukan untuk terlihat hebat, tetapi untuk benar-benar berkembang. (*/MK)







Comment