Sambas, Media Kalbar – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UNISSAS Cabang Sambas menyoroti mandeknya pembangunan proyek Waterfront di kawasan Istana Alwatzikhoebillah, Desa Dalam Kaum.
Proyek yang diharapkan menjadi ikon wisata tepi sungai itu hingga kini terlihat mangkrak dan tak menunjukkan progres.
Kondisi tersebut disampaikan oleh Ketua Umum PMII Komisariat UNISSAS Cabang Sambas, Uray Alkaf, yang mengaku prihatin melihat terbengkalainya pembangunan di kawasan yang menjadi salah satu wajah sejarah Kabupaten Sambas.
“Hilang tah ke mana, bagaikan angin lewat. Proyek Waterfront di depan Istana Alwatzikhoebillah sampai sekarang tidak jelas kabarnya. Tidak ada tanda-tanda kelanjutan,” ujar Uray Alkaf, Jumat (22/11/2025).
Selain proyek yang tak bergerak, PMII juga menyoroti akses jalan menuju istana dan kawasan Waterfront yang rusak parah. Jalan berlubang, becek saat hujan, dan sulit dilalui kendaraan membuat jumlah pengunjung menurun drastis.
“Kalau pemerintah cepat bergerak, jalan itu harusnya dibaguskan dulu. Kafe-kafe di tepi sungai bisa kembali ramai dan ekonomi UMKM masyarakat Sambas bisa hidup lagi,” tambahnya.
Sebelumnya kata Ketua PMII Sambas bahwa , Gubernur Kalimantan Barat, Drs. H. Ria Norsan, saat kunjungan ke Sambas pada 22 April 2025, menegaskan komitmennya untuk melanjutkan pembangunan Waterfront.
Namun hingga kini, PMII menyebut tidak ada perkembangan ataupun informasi lanjutan dari pemerintah provinsi maupun kabupaten terkait kelanjutan proyek tersebut.
PMII Sambas mendesak pemerintah daerah dan provinsi untuk memberikan kejelasan mengenai progres pembangunan serta memprioritaskan perbaikan akses jalan menuju kawasan istana.
“Jangan sampai potensi wisata, sejarah, dan UMKM di Sambas mati hanya karena pemerintah lambat mengambil langkah,” tegas Uray Alkaf.
“Masyarakat berharap pemerintah segera memperbaiki infrastruktur dan melanjutkan pembangunan Waterfront yang terbengkalai agar kawasan istana kembali hidup dan layak dikunjungi.” jelasnya. (Rai)











Comment