I’am back. Setelah seharian masuk ke pedalaman Kalbar, saatnya kita kincah lagi apa yang lagi hot di negeri ini. Saya memilih Kanda Bahlil. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Kanda Bahlil akhirnya meledak di Ambon. Bukan meledak seperti tabung gas tiga kilogram, tetapi ledakan emosi konon bisa membuat burung Cenderawasih kehilangan arah pulang. Gara-garanya, nama beliau ikut diseret dalam cerita dugaan penyadapan telepon Presiden Prabowo Subianto oleh eks Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo cs.
Padahal, Kanda Bahlil ini kesibukannya sudah seperti manusia punya 48 jam sehari. Ketua Umum Partai Golkar, Menteri ESDM, sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi. Mengurus partai saja sudah bikin kepala berasap, ditambah mengurus energi, sekarang malah dituduh ikut rapat jenderal untuk menyadap Presiden. Apa tidak kurang kerjaan namanya?
Dalam pelantikan DPD I Partai Golkar Maluku di Ambon, Sabtu, 7 November 2026, yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kabar Golkar, Bahlil akhirnya buka mulut. Kali ini bukan bicara hilirisasi, bukan pula bicara tambang. Beliau sedang mengurus hilirisasi tuduhan dianggap sudah kelewatan.
Katanya, ada seorang senior merasa paling pintar bicara, sering muncul di podcast, dan memakai kacamata. Ini petunjuk atau pengumuman kehilangan orang? Ciri-cirinya sudah disampaikan. Tinggal menunggu apakah pemilik kacamata merasa tersindir akan muncul sambil membawa kuitansi pembelian kacamatanya.
“Itu ada senior saya juga, senior saya yang merasa paling pintar bicara, sering pakai kacamata orangnya, di podcast,” kata Bahlil.
Kemudian Kanda Bahlil mengeluarkan jurus pamungkas. Bukan jurus Golkar, bukan jurus ESDM, melainkan jurus 3×24 jam yang konon bisa membuat lutut para penyebar rumor mendadak bergetar.
“Ya saya bilang kalau memang itu dinyatakan bahwa diduga saya ikut rapat jenderal, buktikan. Kalau tidak, saya akan somasi. Kalau tidak, saya akan proses secara hukum.”
Nah, jelas sudah! Bahlil tidak mau dijadikan pemain tambahan dalam film penyadapan Presiden. Apalagi kabarnya beliau dituduh ikut rapat dengan para jenderal tiga jam sebelum aksi penyadapan Prabowo. Tuduhan itu langsung dibantahnya sebagai hoaks dan cerita mengarang.
Bahlil menganggap tuduhan tersebut sangat berbahaya. “Karena ini berbahaya. Ini berbahaya. Ini tuduhan-tuduhan menurut saya sama kuatnya dengan melakukan penyadapan. Apa maksudnya memberikan berita-berita yang kurang bagus?”
Beliau berjanji setelah pulang dari Ambon akan melayangkan somasi. Tenggatnya 3×24 jam. Kalau tidak ada bukti atau klarifikasi, perkara akan diproses secara hukum. Indonesia, kata Bahlil, adalah negara hukum.
Berarti mulai sekarang para penggemar podcast harus hati-hati. Jangan sampai baru selesai merekam satu episode, tiba-tiba datang surat somasi. Mikrofon belum dimatikan, pengacara sudah mengetuk pintu. Kacamatanya pun mungkin langsung berkabut.
Tetapi ada satu persoalan lebih besar dari urusan kacamata dan somasi. Kasus dugaan penyadapan telepon Presiden masih menyimpan banyak tanda tanya. Siapa menyadap? Siapa memerintahkan? Siapa ikut rapat? Siapa dalangnya? Apakah ada peserta rapat cuma datang karena mengira acaranya makan-makan?
Rakyat tentu ingin tahu duduk perkara sebenarnya. Jangan sampai kasus penyadapan Presiden berubah menjadi kompetisi nasional lempar tuduhan, sementara dalang sesungguhnya masih duduk santai menikmati kopi sambil menonton drama.
Kanda Bahlil sudah mengeluarkan peringatan, buktikan atau berhadapan dengan hukum. Baiklah, kita tunggu saja. Siapa tahu setelah ini muncul episode baru berjudul Perang Kacamata Melawan Surat Somasi. Sementara itu, kasus penyadapan Presiden jangan sampai tenggelam ditelan drama.
Sebab, kalau Presiden saja bisa diduga disadap, jangan-jangan sebentar lagi rakyat harus memeriksa apakah suara “aaah” usai seruput Koptagul masuk rekaman negara. Republik ini memang makin canggih. Dulu orang berlomba-lomba mencari sinyal, sekarang sibuk mencari siapa yang menyadap sinyal Presiden! (*)
Penulis: Rosadi Jamani











Comment