by

Tak Kenal Usia, Tak Kenal Lelah: Yohanes Lanjutkan Perjuangan Menuntut Ilmu di Magister Hukum Unissula

SEMARANG, Media Kalbar  — Menuntut ilmu tidak mengenal batas usia. Selama masih ada niat, kemauan dan tekad untuk belajar, tidak ada kata terlambat untuk mengejar cita-cita.

Prinsip itulah yang kini kembali dibuktikan oleh Yohanes, S.Pd., S.H., seorang advokat asal Kalimantan Barat yang memilih untuk terus melanjutkan pendidikannya dengan menempuh Magister Ilmu Hukum (M.H.) di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.

Di tengah kesibukannya menjalani profesi sebagai advokat yang banyak mendampingi dan membela kepentingan masyarakat, Yohanes tetap menyempatkan diri untuk kembali duduk sebagai mahasiswa.

Baginya, pendidikan bukan sekadar mengejar gelar. Pendidikan adalah perjalanan untuk memperluas pengetahuan, memperkuat kemampuan dan menjadi pribadi yang semakin bermanfaat bagi orang lain.

Perjalanan tersebut tentu tidak datang dengan mudah.

Yohanes lahir dan tumbuh dari keluarga sederhana di Dusun Jabeng, Desa Mamek, Kecamatan Menyuke, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Kehidupan masa kecil yang penuh keterbatasan tidak membuat dirinya menyerah terhadap keadaan.

Justru dari kesederhanaan itulah tumbuh sebuah tekad bahwa keadaan ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Sebelum fokus menjalani profesinya sebagai advokat, Yohanes juga pernah menghabiskan waktu belasan tahun berkecimpung di dunia jurnalistik dan bekerja sebagai jurnalis di berbagai media.

Dari dunia jurnalistik hingga kemudian memilih jalan sebagai advokat, satu hal yang tetap dibawanya adalah keinginan untuk terus belajar dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kini, ketika dirinya telah menjalani profesi sebagai pengacara, Yohanes kembali mengambil langkah baru dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister hukum.

“Tuhan Menjawab Doa Saya dengan Cara yang Tidak Saya Duga”

Ada satu bagian dari perjalanan Yohanes menuju bangku Magister Hukum yang menurutnya sangat menyentuh hati.

Awalnya, ia berencana menabung terlebih dahulu dan baru melanjutkan pendidikan S2 pada tahun berikutnya.

Namun, rencana manusia ternyata tidak selalu sama dengan jalan yang Tuhan persiapkan.

Di tengah proses tersebut, hadir seseorang yang dengan penuh kesederhanaan memberikan dukungan dan membantu Yohanes dalam perkuliahannya.

Yohanes menyampaikan rasa terima kasih yang begitu besar kepada sosok tersebut. Ia memilih tidak menyebutkan namanya kepada publik.

Baginya, kebaikan tidak selalu harus diumumkan. Ada kebaikan yang cukup disimpan dalam hati dan dibalas dengan doa.

«“Ribuan terima kasih saya sampaikan kepada seorang bapak yang dalam kesederhanaannya telah mendukung dan membantu saya dalam perkuliahan ini. Awalnya saya ingin menabung dulu dan tahun depan baru melanjutkan S2. Tetapi Tuhan begitu baik. Tuhan mendengar doa saya dan menjawabnya cepat serta tepat pada waktunya,” ungkap Yohanes.»

Bagi Yohanes, pertolongan tersebut bukan sekadar bantuan materi.

Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai bukti bahwa ketika seseorang memiliki niat baik, berusaha dan tidak berhenti berdoa, pertolongan Tuhan dapat datang melalui jalan yang tidak pernah disangka-sangka.

Doa untuk Orang yang Telah Membantu

Dengan penuh kerendahan hati, Yohanes juga menyampaikan doa khusus kepada orang yang telah membantunya.

«“Saya berdoa semoga orang baik tersebut, yang tidak perlu saya sebutkan namanya, senantiasa diberikan kesehatan, kedamaian, sukacita dan berkat di masa tuanya. Semoga beliau dan seluruh keluarganya selalu diberikan kesehatan dan perlindungan oleh Tuhan,” ucapnya.»

Ucapan tersebut menunjukkan bahwa bagi Yohanes, sebuah pertolongan tidak diukur hanya dari besar atau kecilnya bantuan.

Yang paling berharga adalah ketulusan hati orang yang memberikan pertolongan ketika seseorang sedang membutuhkan dukungan.

Jangan Takut Bermimpi karena Berasal dari Keluarga Sederhana

Kisah Yohanes menjadi pengingat bahwa seseorang tidak harus lahir dari keluarga berada untuk memiliki cita-cita besar.

Kesederhanaan bukanlah penghalang untuk menjadi orang sukses.

Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar.

Dan usia bukan alasan untuk berhenti mengejar ilmu.

Menurut Yohanes, siapa pun yang memiliki niat untuk belajar harus berani memulai.

«“Kalau ada niat dan doa, Tuhan akan memberikan pertolongan. Pertolongan itu bisa datang melalui pekerjaan, usaha, bahkan melalui orang lain yang mungkin sebelumnya tidak kita kenal. Tuhan bisa mengirimkan orang-orang baik untuk membantu dan menolong kita,” ujarnya.»

Kalimat tersebut menjadi pesan penting yang ingin ia bagikan kepada generasi muda.

Menurutnya, perjalanan hidup tidak selalu harus dimulai dari kondisi yang sempurna. Yang terpenting adalah berani melangkah, mau belajar, bekerja keras dan tidak berhenti berdoa.

Dari Dusun Jabeng Menuju Bangku Magister

Perjalanan Yohanes dari sebuah dusun di pedalaman Kalimantan Barat hingga melanjutkan pendidikan Magister Ilmu Hukum di Semarang menjadi sebuah perjalanan yang sarat makna.

Bukan tentang seberapa tinggi seseorang memulai perjalanan.

Tetapi tentang seberapa kuat seseorang mempertahankan langkahnya ketika menghadapi keterbatasan.

Hari ini, Yohanes kembali menjadi mahasiswa.

Namun kali ini bukan sebagai seseorang yang sekadar mengejar pendidikan, melainkan sebagai seorang advokat yang ingin terus meningkatkan kapasitas keilmuannya agar semakin mampu memberikan pendampingan dan pembelaan kepada masyarakat.

Ada sebuah pesan sederhana yang tersirat dari perjalanan tersebut:

Jangan pernah merasa terlalu tua untuk belajar. Jangan merasa terlalu miskin untuk bermimpi. Jangan merasa terlalu jauh untuk mencapai cita-cita. Selama masih ada kemauan, usaha dan doa, selalu ada jalan yang dapat Tuhan bukakan.

Dan terkadang, jawaban atas doa tidak datang dalam bentuk yang kita bayangkan.

Ia bisa datang melalui pekerjaan.

Melalui, kesempatan, Melalui sebuah pertemuan.

Atau melalui tangan seorang manusia yang hadir dengan ketulusan pada saat yang tepat.

Bagi Yohanes, bantuan yang diterimanya hari ini bukan hanya menjadi jalan menuju bangku Magister Hukum.

Tetapi juga menjadi pengingat seumur hidup bahwa kebaikan sekecil apa pun dapat menjadi cahaya besar bagi perjalanan hidup seseorang.

“Terima kasih untuk kebaikan yang telah diberikan. Semoga Tuhan membalas setiap kebaikan dengan berkat yang jauh lebih besar, memberikan kesehatan, kedamaian dan sukacita bagi beliau serta keluarganya,” tutup Yohanes. (*/Amad)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed