by

Air Sungai di Sepantai Sambas Keruh seperti Kopi Susu, Warga Duga Dampak PETI

Sambas, Media Kalbar – Kondisi air sungai di Desa Sepantai, Kecamatan Sejangkung, Kabupaten Sambas, makin memprihatinkan. Air yang dulu jernih kini berubah keruh kekuningan menyerupai kopi susu dan kondisi itu disebut sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Sungai yang melintasi desa tersebut merupakan bagian dari hulu Sungai Sambas dan selama ini menjadi penopang utama kebutuhan warga.

Namun kini, kualitas air disebut terus menurun. Warga menduga aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI), baik di darat maupun yang kini sudah masuk ke badan sungai, menjadi penyebab utama.

Mustafa (52), warga Dusun Sepandak, mengatakan perubahan warna air awalnya terjadi saat musim hujan. Namun belakangan, air tetap keruh meski cuaca sedang tidak hujan.

“Dulu air keruh hanya saat musim hujan, karena limbah PETI dari darat. Sekarang, walaupun tidak hujan, air tetap keruh seperti kopi susu karena penambangan sudah masuk ke dalam sungai,” kata Mustafa, Senin (20/4/2026).

Menurutnya, aktivitas PETI itu diduga berasal dari wilayah hulu di daerah Ledo, Kabupaten Bengkayang, yang alirannya bermuara ke Sungai Sambas.

Kondisi tersebut berdampak langsung ke kehidupan warga. Sungai yang sebelumnya dipakai untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan sehari-hari, kini justru dikhawatirkan memicu gangguan kesehatan.

“Kalau banjir, banyak yang kena gatal-gatal. Kotoran semua terbawa air. Kami di rumah harus selalu sedia obat gatal,” ujarnya.

Tak hanya itu, nelayan tradisional juga merasakan dampaknya. Hasil tangkapan ikan dan udang yang dulu melimpah kini disebut semakin sulit didapat.

“Dulu sekali angkat jaring bisa dapat banyak. Sekarang susah sekali,” tambah Mustafa.
Warga juga mengaku resah dengan mulai seringnya buaya muncul di sungai, padahal sebelumnya satwa itu jarang terlihat.

Di sisi lain, keterbatasan akses air bersih membuat kondisi warga makin sulit. Di dusun tersebut hanya ada dua sumur bor, satu di antaranya milik pribadi. Sementara bantuan pemerintah disebut masih sangat minim.

“Bantuan hanya berupa tandon air satu unit per RT. Belum ada solusi nyata untuk air bersih,” ungkapnya.

Keluhan serupa disampaikan tokoh agama setempat, Hairani (53). Ia menyoroti sulitnya warga mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau.

“Kalau lama tidak hujan, kami sangat kesulitan air. Harapan kami, ada bantuan sumur bor dan air sungai bisa kembali bersih,” tutup Hairani.(Rai)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed