Setelah digempur siang malam, LCC 4 Pilar MPR RI diputuskan diulang. Semua dari nol lagi. Tak ada juara. Dua juri budek itu tak dipakai lagi. Minta maaf pun kagak ade. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Pontianak beberapa hari terakhir bukan kota khatulistiwa lagi. Ia berubah jadi kawah panas tempat rakyat mendidihkan kemarahan. Grup WA mendidih. TikTok ngamuk. Instagram penuh analisis mendalam mendadak ala profesor konstitusi. Bahkan warung kopi pun berubah jadi Mahkamah Internasional versi pakai kopi susu dan pisang goreng.
Semua gara-gara drama Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar tingkat Kalimantan Barat, Sabtu 9 Mei lalu. Acara yang harusnya penuh tepuk tangan pendidikan malah berubah seperti sinetron politik jam prime time. Jawaban Ocha alias Josepha dari SMAN 1 Pontianak yang menurut banyak orang sudah benar dan punya substansi sama, malah dipelintir jadi polemik nasional.
Netizen langsung bergerak. Mereka bukan lagi netizen biasa. Mereka berubah jadi “Pasukan Audit Nusantara.” Ada yang mutar video 0,25 speed. Ada yang bikin analisis per kalimat. Ada yang membandingkan jawaban seperti ahli forensik subtitle Netflix. Bahkan mungkin ada yang rela lupa makan demi membela logika.
Akhirnyaaaa…
Ketua Ahmad Muzani resmi mengumumkan final akan diulang!
Seketika rakyat Kalbar bersorak lebih heboh dari emak-emak dapat minyak goreng dua liter tanpa antre. Ini bukan sekadar keputusan. Ini klimaks film action pendidikan. Ending bahagia setelah rakyat bertarung melawan “keanehan yang sulit dijelaskan dengan ilmu pengetahuan modern.”
MPR akhirnya sadar. Kalau polemik ini diteruskan, bisa-bisa rakyat bikin serial dokumenter tiga musim, “Misteri Jawaban yang Benar Tapi Salah.”
Maka diputuskanlah, final ulang, juri independen, pengawasan langsung dari pimpinan MPR, dan evaluasi total. Nah ini baru mantap! Jangan lagi ada juri yang penilaiannya belok-belok macam arah politik menjelang pilkada. Hari ini bilang A, besok jadi B, lusa gabung koalisi.
Yang paling bahagia tentu kubu SMAN 1 Pontianak. Mereka sejak awal sudah vokal meminta klarifikasi lewat Instagram resmi. Mereka bertahan dihantam komentar, debat, dan kegaduhan nasional mini. Tapi akhirnya mereka mendapat kemenangan moral yang manisnya melebihi es jeruk dingin habis panas-panasan di Jalan Gajah Mada.
Sementara itu, SMAN 1 Sambas sekarang harus bersiap lagi. Dulu sempat muncul postingan “doa adalah kunci,” Sekarang mereka akan berdoa lagi membuktikan merekalah yang akan menjadi juara sejati.
Yang menarik, rakyat akhirnya sadar satu hal penting, jangan pernah remehkan kekuatan internet Indonesia. Di negara lain netizen cuma bikin meme. Di sini, netizen bisa membuat lembaga tinggi negara ikut evaluasi nasional. Ini kekuatan luar biasa. Kalau energi netizen disalurkan buat memperbaiki jalan berlubang, mungkin aspal bisa takut sendiri lalu menutup luka.
Wakil Ketua MPR sampai menyampaikan permohonan maaf resmi. Ini momen langka. Dalam dunia politik yang kadang lebih susah mengucap maaf dari nyari sinyal di pedalaman, akhirnya ada juga pengakuan, publik memang layak didengar.
Hari ini rakyat Kalbar merayakan kemenangan akal sehat. Anak-anak sekolah kembali punya harapan, lomba pengetahuan bukan arena sulap penilaian. Publik akhirnya percaya, kalau ramai bersama-sama, suara rakyat bisa lebih nyaring dari toa kampanye musim pemilu.
Hari ini bukan cuma final yang diulang. Tapi juga kepercayaan publik yang mulai dijahit kembali. Semoga nanti jurinya datang membawa objektivitas, bukan membawa “perasaan yang sulit diverifikasi secara ilmiah.”
Oh iya, terima kasih buat pengikut Partai Koptagul yang berjuang bersama-sama mengguyuk gedung MPR. Walau duo juri itu masih betapok, kita anggap kemenangan sudah diraih. Merdeka…! Duo juri itu tetap jadi incaran kita. (*)
Penulis : Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar










Comment