Baik kita lanjutkan kisah kezaliman di final LCC 4 Pilar MPR RI. Saya begitu geram, rase nak manas ada pejabat bukannya membantu, malah “ngabuttek aek” kate orang Sambas. Maksudnya memperkeruh suasana. Publik sepakat nyalahkan dua juri dan MC, eh dia malah nyalahkan speaker. Siapa dia? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Luar biasa sekali kepemimpinan pendidikan kita ini. Saat satu Indonesia ribut melihat dugaan ketidakadilan terhadap SMAN 1 Pontianak di Final LCC 4 Pilar MPR RI, saat netizen menguliti video frame demi frame, saat publik menuntut sportivitas dipulihkan… Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar, Syarif Faisal Indahmawan Alkadrie, justru tampil membawa teori paling nyeleneh abad ini: penyebab semua kekacauan adalah speaker.
Iya. Speaker.
Bukan juri yang dianggap salah mengambil keputusan.
Bukan sistem lomba yang kacau.
Bukan dugaan pengurangan poin seenaknya.
Bukan suasana final yang bikin publik geram.
Tapi speaker.
Kotak pengeras suara itu.
Benda yang biasanya cuma dipakai buat karaoke keluarga dan pengumuman sandal hilang. Ini bukan artikulasi, eh salah, klarifikasi. Ini sudah seperti episode sinetron science fiction.
Lucunya begini, wak! Suara Josepha terdengar jelas oleh penonton di lokasi. Terdengar jelas di siaran YouTube. Netizen yang nonton sambil selonjoran di warung kopi pun dengar. Bahkan mungkin kucing kompleks sebelah ikut hafal jawabannya. Tapi entah kenapa, menurut narasi yang dibangun, suara itu mendadak menghilang tepat ketika masuk radius meja juri. Wah, speaker Kalbar ini hebat sekali. Bisa selektif. Bisa memilih siapa yang boleh mendengar dan siapa yang harus tuli mendadak.
Yang bikin rakyat tambah mendidih, Komisi X DPR RI saja sampai meminta final LCC itu diulang demi menjaga keadilan dan sportivitas siswa. Artinya, orang pusat saja melihat ada masalah serius. Bahkan MPR RI sudah menonaktifkan dua juri dan MC. Perhatikan baik-baik: DINONAKTIFKAN. Itu bukan tindakan kalau semuanya dianggap normal-normal saja. Tidak mungkin orang dicopot gara-gara speaker lagi bad mood.
Tapi anehnya, pejabat pendidikan Kalbar malah terdengar sibuk menjadi humas perlindungan alat elektronik. Bukannya berdiri paling depan membela anak-anak daerahnya sendiri, malah sibuk menjelaskan kemungkinan teknis audio. Astaga. Anak-anak SMA sudah bertarung mati-matian membawa nama Kalbar, eh yang keluar malah analisis level teknisi sound system hajatan.
Harusnya meja digebrak. Harusnya ada pernyataan keras, “Kami tidak terima siswa Kalbar diperlakukan begini!”
Harusnya ada kemarahan membela peserta didik yang merasa dirugikan. Tapi yang muncul malah diplomasi super lembut rasa bubur bayi. Jangan gaduh. Jangan terlalu keras. Ajukan peninjauan resmi saja. Bahkan solusi yang ditawarkan terdengar seperti hadiah penghiburan lomba mewarnai, SMAN 1 Pontianak diundang saja langsung ke grand final nasional di Jakarta.
Hah?
Kalau ada dugaan ketidakadilan, tidak perlu dibuktikan ulang lewat pertandingan fair? Tidak perlu final diulang? Cukup diberi tiket ke Jakarta lalu semua dianggap selesai? Ini penyelesaian masalah atau paket study tour?
Publik marah bukan semata karena kalah-menang. Publik marah karena melihat cara pejabat bersikap ketika anak-anak daerahnya sendiri merasa dizalimi di depan umum. Komisi X saja berani bicara lantang soal pengulangan final. MPR RI saja berani menonaktifkan juri dan MC. Tapi Kadisdik Kalbar malah sibuk mengejar speaker seperti detektif audio keliling.
Speaker itu sekarang mungkin trauma. Dia cuma benda elektronik, tapi mendadak dijadikan kambing hitam nasional. Padahal video viral sudah beredar ke mana-mana, suaranya jelas, jawabannya terdengar, publik mendengar. Yang tidak terdengar justru keberanian pejabat untuk pasang badan membela siswa Kalbar sendiri.
Kalau begini caranya, rakyat wajar ngamuk. Karena ketika anak-anak Kalbar membutuhkan singa untuk melawan ketidakadilan, yang datang malah tukang servis speaker membawa obeng dan alasan teknis.
Lengkap sudah. Ada duta Miss Artikulasi, Duta -5, Duta Perasaan, dan terakhir Duta Speaker. (*)
Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar











Comment