by

Dikangkangi Dan Tidak Dianggap Dalam Program Bedah Rumah, Kades Sepuk Laut Ajukan Audiensi Ke DPRD

Kubu Raya, Media Kalbar

Program Bedah rumah di Desa Sepuk Laut Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya dinilai oleh kepala desa tidak melalui prosedur dan dirinya merasa seakan tidak dianggap.

Muhammad Aly saat di temui di salah satu cafe di Pontianak menyampaikan kekecewaannya.

Aly mengatakan tim nya pak Syarif Abdullah yang bernama Rustam pernah mengajukan usulan bantuan stimulan perumahan, “Namun saya tidak mengetahui apakah itu dari Kecamatan atau Kabupaten, Ketika diajukan ke tim tersebut itu ditolak karena tidak ada usulan dari desa, jadi itu sifatnya pribadi dan usulan tersebut dikembalikan kepada saya lagi oleh Pak Muksin selaku Koordinator atau pengurus kepada saya”. Ungkapnya.

“Pak Muksin mengatakan kepada saya bahwa ini tidak bisa dan harus saya yang mengusulkan dan saya yang harus mengetahui. Jadi pada waktu itu saya mengusulkan sebanyak 15 unit rumah pada Oktober tahun 2021”, katanya lagi.

Lanjut disampaikan, Seiring berjalannya waktu pada tanggal 5 April 2022 ini datanglah tim survei dari kecamatan atas nama Pak Boni dan Mawardi, Mereka memberitahukan kepadanya untuk melakukan survei terhadap ajuan bedah Rumah sebanyak 15 unit tersebut.

“Mereka mengajak saya untuk turun kelapangan, namun saya tidak bisa turun ke lapangan dan saya persilahkan untuk menghubungi Staf Kasi Kesra saya. Sebelum mereka turun saya juga sempat berpesan kepada Pak Mawardi dan saya menjelaskan Untuk Masyarakat Desa Sepuk Laut itu berbeda dengan desa – desa lainnya. Karena kalau nama mereka sudah tercantum mereka merasa bahwa mereka sudah pasti dapat, mereka tidak mau tahu apakah itu memenuhi syarat atau tidak mereka tidak mau tahu.” Jelasnya.

“Kalau ajuan yang saya usulkan pada saat ini diupayakan agar lolos semua.
Kalaulah ada yang tidak lolos survei tolong informasikan kepada saya siapa yang tidak layak. Jadi saya saya selaku kepala desa dan yang mengusulkan, saya yang menyiapkan pengganti dan itu maunya saya”,

Akan tetapi fakta dilapangan tidak seperti itu. “Mereka tidak memberitahukan kepada saya siapa yang lolos dan tidak. Yang ada di laporkan kepada saya yang tidak lolos ada 3 orang dan saya bilang untuk gantinya sayapun tidak tahu. Lama kelamaan mereka ketemu saya untuk meminta tanda tangan dari 15 orang 12 yang sudah lolos, sedangkan untuk 3 orang tersebut sudah ada penggantinya. Dan 3 orang pengganti tersebut tanpa sepengetahuan dan tidak melibatkan saya selaku kepala desa. Sebab yang lebih mengetahui masyarakat saya itu saya bukan tim survei nya. Sedangkan tim survei itu sendiri datang nya setahun sekali. Padahal dilapangan itu ada yang tidak sesuai dengan fakta lapangan dan Itulah yang terjadi di Desa Sepuk Laut pada saat ini”, ungkapnya

Pada saat ini yang saya kesalkan adalah pergantian nama tanpa sepengetahuan saya, jadi saya selaku kepala desa ini merasa dikangkangi atau di anggap tidak ada, padahal mereka perlu sama saya. Jadi pada waktu itu saya mengatakan untuk tanda tangan semua ini saya mau nya 3 orang tersebut dari saya”.

Dan usulan 3 orang tersebut juga sudah saya sampaikan juga kepada Pak Mawardi, tapi 3 orang pengganti tersebut sampai saat ini mereka tetap bertahan dengan 3 orang pengganti dari tim survei tersebut.

” Padahal saya sudah memberitahukan lapor dulu sama saya siapa yang tidak. Dan Saya juga tidak tahu mengapa mereka tidak mau mengganti. Maka Saya tetap bertahan kalau begini caranya saya tidak mau bertanda tangan.” Ujarnya.(Tim./Mk.)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed