PONTIANAK, Media Kalbar — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Kalimantan Barat menargetkan seluruh rangkaian konsolidasi organisasi di 14 kabupaten/kota se-Kalimantan Barat dapat dituntaskan pada Desember 2026.
Konsolidasi tersebut merupakan bagian dari agenda penguatan organisasi yang dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat DPD, DPC, PAC hingga Ranting di tingkat desa/kelurahan. Langkah ini diarahkan untuk memastikan struktur organisasi tidak hanya terbentuk secara administratif, tetapi juga mampu menjalankan fungsi organisasi secara aktif dan berkelanjutan.
Ketua DPD Partai Gerindra Kalimantan Barat, H. Yuliansyah, S.E., mengatakan bahwa sepanjang 2026 partai memfokuskan diri pada pembenahan dan penguatan struktur organisasi hingga tingkat paling bawah.
“Tahun 2026 Partai Gerindra menuntaskan pembenahan dan penguatan struktur organisasi sampai tingkat ranting di desa-desa. Kita bersama seluruh kader harus hadir di tengah-tengah masyarakat Kalimantan Barat,” kata H. Yuliansyah.
Menurutnya, konsolidasi organisasi tidak semata-mata berkaitan dengan kepentingan internal partai, tetapi juga merupakan upaya membangun kedekatan antara kader dan masyarakat. Struktur yang kuat, menurutnya, harus diikuti dengan kemampuan kader dalam menyerap aspirasi, memahami persoalan masyarakat, serta menjalankan fungsi pelayanan politik secara bertanggung jawab.
2027 Menjadi Tahun Kerja
Sementara itu, Ketua Bappilu DPD Partai Gerindra Kalimantan Barat, H. Satono, menegaskan bahwa tahun 2027 harus menjadi fase kerja setelah proses konsolidasi organisasi dilakukan sepanjang 2026.
“Tahun 2027 bukan tahun untuk bersantai, tetapi merupakan tahun kunci. Apa yang kita tanam pada 2027, itulah yang akan kita panen pada 2029,” tegas H. Satono.
Pernyataan tersebut menggambarkan pentingnya kesinambungan antara konsolidasi organisasi dan kerja politik di lapangan. Dalam perspektif manajemen organisasi politik, struktur yang telah dibangun harus diikuti dengan program kerja yang terukur, komunikasi internal yang efektif, serta pemutakhiran basis data sebagai fondasi perencanaan politik.
Karena itu, mesin organisasi harus bekerja secara berkelanjutan, bukan hanya aktif menjelang momentum pemilu.
“Tahun 2026 kita konsolidasi, tahun 2027 harus hidup. PAC dan ranting yang ada harus benar-benar diaktifkan. Seluruh PAC di 14 kabupaten/kota terus diperkuat, termasuk memastikan keberadaan kantor dan pelaksanaan rapat secara berkala,” ujarnya.
Penguatan organisasi juga diarahkan pada pembangunan database politik dan kader, termasuk sebagai bagian dari persiapan proses rekrutmen bakal calon legislatif untuk Pemilu 2029. Dengan basis data yang lebih tertata, proses kaderisasi, pemetaan potensi, dan perencanaan politik diharapkan dapat dilakukan secara lebih sistematis.
Dari Konsolidasi Menuju Kerja Nyata
Konsolidasi organisasi pada akhirnya tidak cukup hanya menghasilkan struktur kepengurusan. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh struktur tersebut memiliki aktivitas, koordinasi, dan program yang jelas.
Dalam konteks tersebut, slogan “Kompak, Bergerak, Berdampak” dapat diterjemahkan menjadi tiga prinsip kerja organisasi: memperkuat soliditas internal, menggerakkan seluruh struktur secara aktif, dan menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Kader juga dituntut untuk aktif mengikuti perkembangan informasi di ruang publik, termasuk media sosial. Terhadap informasi yang dinilai tidak akurat, menyesatkan, atau menyerang pihak tertentu tanpa dasar yang memadai, organisasi perlu merespons melalui klarifikasi berbasis data dan komunikasi publik yang bertanggung jawab.
“Kita akan hadir untuk meluruskan berita-berita di media sosial yang menyerang pemerintah secara membabi buta atau menyebarkan tuduhan terhadap Presiden. Kita akan memberikan penjelasan berdasarkan fakta dan data,” ujar H. Satono.
Pendekatan tersebut penting agar komunikasi politik tidak berhenti pada perdebatan di media sosial, tetapi berkembang menjadi komunikasi publik yang sehat, argumentatif, dan berbasis informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
2027: Tahun Kerja dan Konsolidasi Berkelanjutan
Dengan demikian, tahun 2027 diproyeksikan sebagai fase transisi dari konsolidasi struktural menuju kerja organisasi yang lebih intensif. Jika 2026 difokuskan pada pembenahan struktur, maka 2027 diarahkan pada pengaktifan struktur, penguatan kaderisasi, pemutakhiran database, penyerapan aspirasi masyarakat, serta penyusunan strategi menghadapi Pemilu 2029.
“2027 adalah tahun kerja, bukan tahun pidato. Kalau pada 2027 kita mampu menjaga soliditas, kekompakan, dan kerja yang berdampak, insyaallah Gerindra akan semakin dikenal dan mendapatkan tempat di tengah masyarakat Kalimantan Barat,” pungkasnya.
Dengan target penyelesaian konsolidasi pada 2 Desember 2026, DPD Partai Gerindra Kalimantan Barat menempatkan penguatan organisasi sebagai fondasi awal untuk menghadapi tahapan politik berikutnya. Tantangan utamanya bukan lagi sekadar membentuk struktur, melainkan memastikan struktur tersebut aktif, terukur, responsif terhadap masyarakat, dan mampu bekerja secara berkelanjutan.
Kompak. Bergerak. Berdampak. (*/Amad)











Comment