Sambas, Media Kalbar – Pemerintah Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, memperkuat pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) 2026. Program yang dimulai pada Agustus tersebut menyasar ribuan siswa sekolah dasar untuk mencegah campak, rubela, difteri, tetanus, hingga kanker leher rahim.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, dr. Ganjar Eko Prabowo, MM, mengatakan pelaksanaan BIAS mencakup peserta didik kelas 1, 2, dan 5 SD/MI sederajat serta anak usia sekolah yang tidak bersekolah.
Pada Agustus 2026, sebanyak 11.217 siswa kelas 1 SD/MI menjadi sasaran imunisasi campak dan rubela. Sementara itu, imunisasi Human Papillomavirus (HPV) ditargetkan kepada 5.474 siswi kelas 5 SD/MI.
Pemkab Sambas juga akan melaksanakan imunisasi kejar bagi pelajar kelas 6 SD dan kelas 9 SMP yang belum memperoleh dosis pertama vaksin HPV.
Program tersebut bertujuan menekan angka kesakitan dan kematian akibat campak, rubela, difteri, tetanus neonatorum, serta kanker leher rahim. BIAS dilaksanakan setiap tahun pada Agustus dan November sebagai bagian dari layanan kesehatan sekolah.
Namun, capaian sejumlah jenis imunisasi di Sambas pada 2025 masih berada di bawah target 95%. Cakupan imunisasi campak-rubela bagi siswa kelas 1 SD mencapai 95%, sedangkan imunisasi DT baru 77%.
Untuk siswa kelas 2 SD, cakupan imunisasi Td tercatat 79%. Adapun cakupan Td bagi siswa kelas 5 SD sebesar 80%, sementara imunisasi HPV pada siswi mencapai 95%.
Ganjar mengungkapkan, salah satu kendala utama di lapangan adalah penolakan dari sebagian orang tua murid. Kondisi tersebut kerap dipicu minimnya informasi yang benar, kekhawatiran terhadap efek samping, serta beredarnya informasi yang tidak tepat mengenai imunisasi.
“Penolakan sering kali disebabkan oleh kurangnya informasi yang benar, kekhawatiran terhadap efek samping, dan beredarnya informasi yang tidak tepat,” kata Ganjar dalam Rapat Koordinasi Evaluasi Pelaksanaan BIAS Kabupaten Sambas Tahun 2026.
Dinas Kesehatan meminta pemerintah kecamatan, puskesmas, sekolah, tokoh agama, organisasi profesi, serta unsur masyarakat memperkuat sosialisasi mengenai manfaat dan keamanan imunisasi.
Koordinasi lintas sektor dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan orang tua sekaligus mengejar cakupan minimal 95% pada seluruh jenis imunisasi anak sekolah.(Rai)








Comment