Oleh: Mustafa*
Setiap awal tahun pelajaran, halaman madrasah selalu menghadirkan pemandangan yang menggetarkan hati. Seorang ibu membetulkan kerah seragam anaknya untuk terakhir kali. Seorang ayah menggenggam tangan putranya sambil berpesan, “Belajarlah dengan sungguh-sungguh, hormati guru, cintai teman-temanmu, dan jagalah sholatmu.” Beberapa saat kemudian, kendaraan meninggalkan halaman madrasah, sementara seorang anak masih berdiri memandang hingga bayangannya menghilang di tikungan jalan.
Sesungguhnya, pada saat itulah seorang murid tidak hanya memasuki lingkungan madrasah. Ia sedang melangkah menuju ruang peradaban, tempat ilmu dipelajari, akhlak dibentuk, karakter ditempa, dan masa depan mulai dirajut. Karena itu, Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) tidak semestinya dipahami hanya sebagai kegiatan pengenalan lingkungan atau pembacaan tata tertib. MATAMUDA adalah gerbang pendidikan yang membentuk kesan pertama murid terhadap madrasah. Cara mereka disambut akan memengaruhi cara mereka belajar, berinteraksi, dan mencintai ilmu.
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Sayangilah siapa pun yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh Yang di langit.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Hadis ini mengajarkan bahwa kasih sayang bukan sekadar nilai moral, tetapi fondasi dalam membangun hubungan antarmanusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Dari sinilah semestinya MATAMUDA dimulai: bukan dengan rasa takut, melainkan dengan penghormatan terhadap martabat setiap peserta didik.
Pedagogi Cinta
Penulis memandang MATAMUDA perlu dibangun di atas Pedagogi Cinta, yaitu pendekatan pendidikan yang menjadikan cinta, penghormatan terhadap martabat manusia, keteladanan, dialog, dan pengasuhan sebagai dasar pembentukan karakter. Disiplin tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan madrasah, tetapi disiplin yang tumbuh dari kesadaran akan jauh lebih kuat daripada kepatuhan yang lahir karena ketakutan.
Dalam suasana yang penuh kasih sayang, murid tidak merasa diawasi, melainkan didampingi. Mereka tidak sekadar menaati aturan, tetapi memahami makna di balik setiap aturan. Pendidikan pun berubah dari proses mengendalikan menjadi proses menumbuhkan.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara (1962), menegaskan bahwa “Pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia maupun anggota masyarakat.” Kata “menuntun” menjadi sangat penting karena guru bukan penguasa yang memaksakan kehendak, melainkan pembimbing yang membantu setiap anak menemukan potensi terbaiknya.
Filosofi itu sejalan dengan tradisi pendidikan Islam. KH. Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim (2017) menegaskan bahwa “Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari luasnya ilmu, tetapi juga dari kemuliaan adab. Ilmu yang disertai adab akan melahirkan keberkahan, sedangkan ilmu yang kehilangan adab akan kehilangan kemanfaatannya.”
Nilai tersebut dipertegas oleh firman Allah Swt., “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal (li ta’arafu). Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. 49: 13).
Kata “li ta’arafu” mengandung makna yang jauh lebih luas daripada hanya semata-mata saling mengenal nama. Ta’aruf adalah proses membangun hubungan yang saling memahami, saling menghargai, saling belajar, dan saling memuliakan. Nilai inilah yang menjadi ruh MATAMUDA. Murid baru tidak datang untuk ditaklukkan oleh budaya senioritas, tetapi untuk dibimbing menjadi bagian dari keluarga besar madrasah.
Ketika hari pertama di madrasah dipenuhi senyum guru, sapaan yang ramah, bimbingan kakak kelas, serta suasana yang aman dan menyenangkan, sesungguhnya madrasah sedang menyampaikan pelajaran pertamanya: pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Dari pengalaman awal yang positif itulah tumbuh rasa percaya, dan dari rasa percaya lahirlah kecintaan kepada ilmu.
Berangkat dari fondasi tersebut, MATAMUDA tidak cukup berhenti sebagai kegiatan penyambutan. Nilai kasih sayang harus diterjemahkan menjadi budaya madrasah yang ramah anak, menghadirkan pembelajaran yang bermakna, serta menyiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan akhlak dan jati dirinya.
MATAMUDA dan Madrasah Ramah Anak
Budaya kasih sayang yang ditanamkan sejak hari pertama akan menemukan bentuk nyatanya ketika madrasah menjadi ruang belajar yang aman, inklusif, dan memerdekakan. Dalam konteks ini, MATAMUDA merupakan momentum untuk mengimplementasikan semangat Kurikulum Berbasis Cinta yang dikembangkan Kementerian Agama. Kurikulum ini tidak dimaksudkan mengganti kurikulum nasional, melainkan menghadirkan cinta sebagai ruh pendidikan. Murid tidak hanya diperkenalkan pada ruang kelas, tata tertib, atau jadwal pelajaran, tetapi juga pada nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, moderasi beragama, kepedulian sosial, kecintaan terhadap ilmu, serta penghormatan kepada sesama.
Semangat tersebut selaras dengan pendekatan Deep Learning yang menekankan pembelajaran yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Sejak hari pertama, murid perlu diajak mengenali dirinya, membangun hubungan yang sehat dengan guru dan teman, serta memahami bahwa belajar bukan sekadar mengejar nilai, melainkan proses bertumbuh menjadi manusia yang berilmu dan berakhlak.
Kepala madrasah, guru, wali kelas, tenaga kependidikan, pengurus OSIM, MPK, dan kakak kelas memiliki tanggung jawab yang sama untuk menciptakan pengalaman pertama yang berkesan. Sambutan yang hangat, pendampingan yang tulus, dan budaya saling menghormati akan menumbuhkan rasa aman sekaligus rasa memiliki terhadap madrasah.
Lingkungan belajar yang demikian juga sejalan dengan konsep psychological well-being yang dikembangkan Carol D. Ryff. Menurutnya, manusia berkembang secara optimal ketika mampu menerima dirinya, membangun hubungan yang positif, memiliki tujuan hidup, mandiri, mampu mengelola lingkungannya, dan terus bertumbuh sebagai pribadi. Pandangan ini diperkaya oleh Martin E. P. Seligman melalui model PERMA dalam bukunya Flourish, yang menegaskan pentingnya emosi positif, keterlibatan, hubungan yang sehat, makna hidup, dan pencapaian sebagai unsur kehidupan yang sejahtera.
Nilai-nilai tersebut sesungguhnya telah lama hidup dalam tradisi pendidikan Islam. Budaya memberi salam, berdoa sebelum belajar, menghormati guru, saling membantu, bermusyawarah, menjaga kebersihan, dan melaksanakan salat berjamaah bukan hanya pembiasaan ibadah, tetapi juga sarana membentuk karakter dan kesejahteraan psikologis peserta didik.
Karena itu, MATAMUDA harus menjadi ruang yang bebas dari perundungan, intimidasi, maupun budaya senioritas yang merendahkan martabat manusia. Hari-hari pertama di madrasah hendaknya dipenuhi kegiatan yang mempererat persaudaraan, membangun kepercayaan diri, melatih kolaborasi, serta menumbuhkan kecintaan terhadap belajar. Ketika murid merasa diterima dan dihargai, mereka akan lebih siap berkembang secara akademik, sosial, emosional, dan spiritual.
Menyongsong Masa Depan Pendidikan Madrasah
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial, madrasah dituntut melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, adaptif, kreatif, kritis, mampu berkolaborasi, serta memiliki literasi digital yang baik. Tantangan tersebut tidak cukup dijawab dengan pembaruan kurikulum atau penambahan fasilitas semata. Yang lebih penting adalah membangun budaya belajar yang memanusiakan manusia.
Dalam perspektif itulah MATAMUDA memiliki posisi yang sangat strategis. Pengalaman yang diperoleh murid pada hari-hari pertama akan memengaruhi cara mereka memandang belajar, menghargai guru, berinteraksi dengan teman, dan membangun kepercayaan diri. Ketika gerbang madrasah dibuka dengan kasih sayang, penghormatan, dan keteladanan, sesungguhnya madrasah sedang menanam benih karakter yang akan tumbuh sepanjang hayat.
Sesungguhnya, masa depan madrasah tidak dimulai ketika murid menerima ijazah, melainkan sejak langkah pertama mereka memasuki gerbang madrasah. Dari cara kepala madrasah menyambut, mereka belajar tentang kepemimpinan. Dari keteladanan guru, mereka belajar tentang integritas. Dari keramahan kakak kelas, mereka belajar tentang persaudaraan. Dari budaya madrasah, mereka belajar tentang tanggung jawab. Dan dari kasih sayang yang mereka rasakan sejak hari pertama, tumbuh kecintaan kepada ilmu yang akan menemani perjalanan hidupnya.
Karena itu, MATAMUDA hendaknya tidak dipandang sebagai agenda seremonial pembukaan tahun pelajaran. Ia merupakan ikhtiar strategis untuk menghadirkan pendidikan yang memadukan ilmu, iman, akhlak, dan kemanusiaan. Dari gerbang madrasah itulah lahir generasi yang mencintai Allah Swt., meneladani Rasulullah saw., menghormati guru dan orang tua, menyayangi sesama, menjaga lingkungan, serta mengabdikan ilmu bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan. Pendidikan yang bertumpu pada kasih sayang pada akhirnya akan melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab. Dan dari madrasah yang memanusiakan manusia, masa depan Indonesia dibangun dengan ilmu, akhlak, dan cinta. (*)
*Penulis: Guru MAN 2 Pontianak dan Devisi Pengembangan Pendidikan dan SDM ICMI Kota Pontianak











Comment