Sambas, Media Kalbar – Pemerintah Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, mempercepat penyerapan gabah, beras, dan jagung pada semester II-2026. Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga harga di tingkat petani sekaligus memperkuat rantai pasok pangan daerah.
Strategi percepatan dibahas dalam Rapat Koordinasi Penyerapan Gabah, Beras, dan Jagung Semester II Tahun 2026 di Aula Dinas Pertanian Kabupaten Sambas, Rabu (29/7/2026).
Rapat melibatkan Pemerintah Kabupaten Sambas, Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kalimantan Barat, Perum Bulog, Bank Indonesia, organisasi penggilingan padi, koperasi, pelaku usaha perberasan, serta pemangku kepentingan sektor pertanian lainnya.
Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Sambas, Suseno, mengatakan koordinasi diperlukan untuk mengevaluasi capaian penyerapan sekaligus menentukan strategi hingga akhir 2026.
Berdasarkan informasi yang diterima pemerintah daerah, realisasi penyerapan komoditas pangan telah mencapai sekitar 80% dari target. Capaian tersebut dinilai positif karena masih terdapat waktu pada semester II untuk mengejar sisa target.
“Capaian ini bukan hanya peran pemerintah. Ada Bulog, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, pelaku usaha, koperasi, dan seluruh pemangku kepentingan yang bekerja di belakangnya,” kata Suseno.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu memastikan capaian penyerapan tersebut memberikan dampak langsung terhadap pendapatan petani. Salah satu yang didorong adalah peningkatan kualitas beras Sambas dari kelas medium menuju premium.
“Yang perlu kita lihat adalah hasilnya bagi petani. Melalui kolaborasi dan sinergi, langkah menuju produksi beras premium bisa dilakukan lebih cepat,” ujarnya.
Tujuh Koperasi Dikawal hingga 2027
Kepala BRMP Kalimantan Barat, Anjar Suprapto, S.T.P., M.P., mengatakan Kecamatan Tebas menjadi salah satu kawasan prioritas pengembangan komoditas padi dan jeruk melalui program Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE).
Program yang memperoleh dukungan Bank Dunia tersebut diarahkan untuk meningkatkan produksi, memperkuat kelembagaan ekonomi petani, dan menciptakan nilai tambah dari hasil pertanian.
Anjar menyebut terdapat tujuh koperasi yang mendapatkan pendampingan program ICARE di Kabupaten Sambas. Rinciannya, lima koperasi bergerak pada komoditas padi dan dua koperasi pada komoditas jeruk.
“Tahun ini terdapat dukungan sekitar Rp12 miliar untuk tujuh koperasi. Dua koperasi bergerak pada komoditas jeruk dan lima koperasi bergerak pada komoditas padi,” kata Anjar.
Nilai dukungan tersebut meningkat dibandingkan 2025 yang berada pada kisaran Rp4 miliar hingga Rp5 miliar. Pendampingan dan penguatan koperasi ditargetkan terus berjalan hingga 2027.
Bantuan tersebut diarahkan untuk memperkuat sarana produksi, pengolahan hasil pertanian, penggilingan padi, pengemasan, transportasi, hingga pemasaran produk.
“Kami mencoba mengawal kegiatan ini sampai 2027 agar menghasilkan nilai tambah dari padi. Harapannya, perekonomian dan pendapatan petani maupun kelompok tani yang telah membentuk koperasi menjadi lebih baik,” ujarnya.
Selain penguatan kelembagaan, sejumlah unit kerja teknis Kementerian Pertanian juga dilibatkan untuk mengawal penerapan teknologi, peningkatan produksi, pembangunan lahan percontohan, serta peningkatan kapasitas petani.
Bulog Diminta Bina Penggilingan Padi
Anjar berharap Perum Bulog tidak hanya berperan menyerap gabah dan beras petani, tetapi juga melakukan pembinaan terhadap unit penggilingan padi atau rice milling unit (RMU) dan perusahaan perberasan lokal.
Pembinaan tersebut dapat dimulai dari kawasan Tebas dan diperluas hingga Semparuk. Tujuannya untuk membangun rantai pasok yang terintegrasi dari produksi, pengolahan, hingga pemasaran.
“Bulog kami harapkan dapat melakukan pembinaan terhadap penggilingan dan perusahaan perberasan yang ada. Arahnya bukan hanya di Tebas, tetapi dapat dikembangkan sampai kawasan Semparuk,” katanya.
Penguatan sektor hilir dinilai penting agar petani tidak hanya menjual gabah sebagai bahan mentah. Koperasi didorong mampu mengolah dan memasarkan beras dalam kemasan, baik kategori medium maupun premium.
Dengan demikian, peningkatan produksi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan harga jual dan pendapatan petani.
Gandeng Bank Indonesia
BRMP Kalimantan Barat juga mengajak Bank Indonesia memperkuat kolaborasi dalam pengembangan koperasi pertanian di Sambas.
Dukungan yang dibutuhkan tidak hanya menyangkut pembiayaan, tetapi juga sarana transportasi, peningkatan manajemen usaha, pengemasan produk, pemasaran, dan perluasan jaringan dengan perusahaan pembeli.
Anjar mencontohkan salah satu koperasi binaan sebelumnya telah memperoleh bantuan kendaraan pikap dari Bank Indonesia. Kendaraan tersebut membantu pengangkutan hasil produksi dan kegiatan pemasaran koperasi.
“Kami berharap kolaborasi dengan Bank Indonesia dapat dilanjutkan. Koperasi juga akan dihubungkan dengan perusahaan sehingga mempunyai jaringan dan kepastian pasar,” ujarnya.
Sementara itu, Suseno menegaskan Pemerintah Kabupaten Sambas mendukung penguatan kolaborasi antara BRMP, Bulog, Bank Indonesia, koperasi, penggilingan padi, dan pelaku usaha.
Hasil rapat koordinasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada evaluasi, tetapi ditindaklanjuti dengan pembinaan, penyerapan hasil panen, penguatan koperasi, dan perluasan pasar.
“Semoga rapat koordinasi ini menghasilkan langkah konkret untuk meningkatkan penyerapan gabah, beras, dan jagung sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani Kabupaten Sambas,” pungkas Suseno.(Rai)








Comment