Oleh: Mustafa
“Perempuan yang berdaya adalah fondasi keluarga yang kuat dan bangsa yang maju.” Pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ini relevan dengan peringatan Hari Ibu ke-97, 22 Desember, sebagai ruang refleksi tentang posisi ibu dalam menentukan kualitas manusia dan arah peradaban.
Ungkapan surga di bawah telapak kaki ibu bukan sekadar pesan spiritual, melainkan fondasi etika sosial. Al-Qur’an menegaskan pengorbanan ibu yang mengandung dan melahirkan dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah (QS. Luqman: 14). Pengakuan ini menempatkan ibu sebagai pilar kemanusiaan. Dari rahimnya lahir generasi, dari asuhannya tumbuh nilai, dan dari keteladanannya terbentuk karakter bangsa.
Hari Ibu di Indonesia berakar dari Kongres Perempuan Indonesia 1928, yang menegaskan peran perempuan dalam perjuangan dan pembangunan. Spirit ini penting dihidupkan agar Hari Ibu tidak berhenti pada seremoni. Ketika Indonesia menatap Indonesia Emas 2045, kualitas sumber daya manusia menjadi taruhan utama, dan ibu berada di jantung proses tersebut.
Ibu adalah pendidik pertama. Nilai kejujuran, empati, disiplin, dan iman mula-mula ditanamkan di rumah. Karena itu, kemajuan bangsa tidak dapat dilepaskan dari kondisi ibu. Ibu yang sehat, terdidik, aman, dan berdaya akan melahirkan generasi yang tangguh. Sebaliknya, ketidakadilan dan kekerasan terhadap ibu meninggalkan luka lintas generasi.
Refleksi Hari Ibu perlu diarahkan pada langkah konkret: penguatan pendidikan dan literasi ibu sepanjang hayat; perlindungan menyeluruh dari kekerasan; kebijakan keluarga dan kerja yang ramah ibu; serta penguatan peran ibu sebagai agen nilai dengan dukungan negara, masyarakat, dan keluarga.
Dalam Islam, keadilan adalah prinsip utama. Rasulullah SAW menegaskan penghormatan kepada ibu hingga tiga kali sebelum ayah. Ini menandakan bahwa beban biologis dan sosial ibu menuntut keadilan nyata, bukan pujian simbolik.
Pada akhirnya, surga di bawah telapak kaki ibu adalah pesan tentang masa depan bangsa. Indonesia Emas 2045 tidak dibangun hanya oleh infrastruktur dan angka pertumbuhan, melainkan oleh penghormatan yang nyata kepada ibu. Dari doa yang lirih di bibir ibu, bangsa ini bertahan; dari telapak kakinya yang letih, peradaban ditentukan.
Penulis adalah Guru MAN 2 Pontianak











Comment