by

Thawaf Kehidupan Mencari Pusat Makna

Oleh: Mustafa

Di antara jutaan langkah manusia yang datang dari berbagai penjuru dunia, ibadah haji menghadirkan pemandangan agung tentang persamaan, penghambaan, dan pencarian makna hidup. Tidak ada sekat bangsa, bahasa, warna kulit, ataupun status sosial ketika seluruh jamaah bergerak menuju satu pusat yang sama: Baitullah. Talbiyah menggema menyatukan hati-hati yang datang membawa harapan, penyesalan, doa, dan kerinduan kepada Allah SWT. Dalam suasana spiritual itulah haji tidak hanya menjadi perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan batin manusia untuk menemukan kembali arah hidupnya di tengah dunia yang terus bergerak tanpa henti.

Perjalanan itu berlanjut ketika jamaah menuju Makkah Al-Mukarramah dengan mengambil miqat makani di Masjid Bir Ali (Dzulhulaifah) untuk berniat ihram haji dan umrah. Sejak mengenakan pakaian ihram dan melafalkan talbiyah, manusia seperti melepaskan seluruh atribut duniawinya. Tidak ada lagi perbedaan pangkat, jabatan, kekayaan, maupun kedudukan sosial. Semua berdiri sama di hadapan Allah SWT dalam balutan kain putih yang sederhana. Ihram menjadi simbol kesucian, kesederhanaan, sekaligus latihan pengendalian diri agar manusia belajar menundukkan ego dan hawa nafsunya.

Setibanya di Makkah, jamaah melaksanakan tawaf qudum, yaitu tawaf sunnah yang dilakukan ketika memasuki Kota Makkah sebagai bentuk penghormatan kepada Baitullah. Pada titik inilah thawaf menjadi menarik untuk direnungkan lebih dalam. Selama ini thawaf dipahami sebagai ritual mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Padahal lebih dari itu, thawaf menyimpan simbol kehidupan manusia itu sendiri.

Thawaf berasal dari kata bahasa Arab “Tafa” yang berarti berkeliling atau mengitari sesuatu. Ada gerak yang terus berulang, tetapi selalu memiliki pusat. Di situlah letak makna terpentingnya: hidup yang baik bukan hanya hidup yang terus bergerak, melainkan hidup yang memiliki pusat orientasi yang jelas.

Judul “Thawaf Kehidupan Mencari Pusat Makna” untuk merefleksikan sekaligus menemukan relevansinya pada titik ini. Kehidupan manusia sesungguhnya menyerupai thawaf: terus bergerak, berputar, berpindah dari satu fase ke fase lain, dari cita-cita menuju cita-cita berikutnya. Namun seluruh gerak itu akan kehilangan makna apabila tidak memiliki pusat yang menjadi arah dan tujuan.

Alam semesta bergerak dengan pola seperti itu. Planet mengitari matahari, bulan mengitari bumi, bahkan elektron bergerak mengelilingi inti atom. Semuanya bergerak tanpa kehilangan pusatnya. Ketika manusia melakukan thawaf, sesungguhnya ia sedang menyelaraskan dirinya dengan keteraturan semesta: bergerak tanpa kehilangan arah.

Persoalan terbesar manusia modern sesungguhnya bukan kurangnya aktivitas, melainkan hilangnya pusat nilai dalam kehidupan. Manusia hari ini terus bergerak, bekerja, dan mengejar banyak hal, tetapi sering tidak memahami untuk apa seluruh gerak itu dilakukan. Akibatnya hidup menjadi penuh kesibukan, tetapi miskin makna.

Fenomena ini tampak dalam berbagai bidang kehidupan. Politik misalnya, sering kehilangan orientasi moral. Pergerakan politik tidak lagi berputar pada keadilan dan kesejahteraan rakyat, melainkan pada perebutan kekuasaan dan pencitraan. Para elite sibuk bermanuver, tetapi masyarakat sering merasa tidak benar-benar dibawa menuju perubahan yang berarti.

Hal serupa terlihat dalam dunia akademik. Banyak orang mengejar gelar, publikasi, dan jabatan akademik, tetapi perlahan melupakan esensi ilmu itu sendiri. Pengetahuan kehilangan ruh transformatifnya. Akademisi sibuk mengejar angka, tetapi lupa menghadirkan makna dan kemanfaatan bagi kehidupan.

Dalam kehidupan sehari-hari pun situasi ini terasa dekat. Banyak orang hidup dalam rutinitas yang padat tetapi hampa: bangun pagi, bekerja, lelah, tidur, lalu mengulanginya kembali tanpa sempat bertanya untuk apa semua itu dijalani.

Di era konsumerisme, manusia bahkan menciptakan “thawaf” baru. Mall dan pusat perbelanjaan menjadi ruang simbolik tempat orang mencari pengakuan dan identitas. Kita berjalan mengelilingi etalase, merek, dan diskon seperti mengelilingi pusat makna baru. Bedanya, jika thawaf dalam ibadah berpusat pada tauhid, maka thawaf modern sering berpusat pada komoditas.

Filsuf Prancis Jean Baudrillard dalam The Consumer Society menjelaskan bahwa masyarakat modern tidak lagi mengonsumsi barang semata karena kebutuhan, tetapi karena makna simbolik, citra, dan pengakuan sosial yang melekat padanya. Orang membeli simbol status dan validasi sosial. Akibatnya manusia terus bergerak mengejar kepuasan, tetapi sering tidak pernah benar-benar merasa cukup.

Padahal inti thawaf justru terletak pada kesadaran terhadap pusat itu sendiri. Ka’bah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol tauhid yang menegaskan bahwa hidup manusia semestinya berorientasi pada sesuatu yang lebih tinggi daripada kepentingan dirinya sendiri.

Artinya, thawaf bukan hanya soal berjalan mengitari Ka’bah, tetapi tentang menata ulang orientasi hidup. Tentang memastikan bahwa pekerjaan, politik, ilmu, bisnis, dan relasi sosial tidak kehilangan nilai dasarnya.

Pertanyaan pentingnya kemudian: apa sebenarnya pusat hidup kita hari ini? Apakah hidup masih berputar pada kejujuran, keadilan, kemanusiaan, dan pengabdian? Ataukah diam-diam telah bergeser menjadi uang, jabatan, popularitas, dan validasi sosial?

Dalam tradisi tasawuf dikenal gagasan membersihkan diri dari “berhala-berhala batin” seperti kesombongan, kerakusan, iri hati, dan cinta dunia yang berlebihan. Dalam konteks ini, thawaf dapat dipahami sebagai simbol perjalanan melawan ego. Setiap putaran tidak hanya mengayunkan langkah fisik, tetapi latihan untuk keluar dari diri yang sempit menuju kesadaran yang lebih luas.

Thawaf juga mengandung pesan sosial yang kuat. Semua orang bergerak dalam ritme yang sama tanpa membedakan status sosial dan kekayaan. Semua menghadap pusat yang sama. Ada pesan egalitarian yang menegaskan bahwa manusia pada dasarnya setara di hadapan nilai yang lebih tinggi.

Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, pesan ini terasa sangat relevan. Ketimpangan ekonomi melebar, polarisasi sosial mengeras, dan solidaritas kolektif melemah. Masyarakat modern seperti kehilangan “pusat bersama”. Setiap kelompok hidup dalam orbitnya masing-masing.

Karena itu, “Thawaf Kehidupan Mencari Pusat Makna” bukan hanya semata-mata untuk refleksi tentang ritual ibadah di Tanah Suci, melainkan ajakan untuk menata kembali arah kehidupan. Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, manusia membutuhkan pusat nilai agar tidak kehilangan makna dalam setiap langkahnya. Sebab hidup bukan hanya tentang terus berjalan dan mengejar sesuatu, tetapi tentang memastikan ke mana seluruh perjalanan itu bermuara. Thawaf mengajarkan bahwa manusia boleh terus bergerak, tetapi hati dan hidupnya harus tetap berpusat pada tauhid, kemanusiaan, dan pengabdian kepada Allah SWT. Wallahu’alam bis-shawab. (*)

*Penulis adalah Guru MAN 2 Pontianak dan Sekretaris DPD FKOB Kota Pontianak*

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed