by

Spirit Dzulhijah dan Kebangkitan Nasional Membimbing Generasi Cemas

Oleh: Mustafa

Spirit Dzulhijah dan Hari Kebangkitan Nasional mengajarkan bahwa iman, pengorbanan, persatuan, serta kepedulian sosial merupakan fondasi utama dalam membimbing generasi muda menghadapi berbagai kecemasan zaman demi masa depan Indonesia yang bermartabat dan berkeadaban.

Bulan Dzulhijah selain momentum ibadah haji dan kurban, juga ruang pendidikan ruhani yang mengajarkan nilai ketaatan, keikhlasan, dan pengorbanan sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS. Dari bulan yang mulia ini, manusia diajak memahami bahwa persaudaraan, kepedulian sosial, dan cinta kemanusiaan merupakan fondasi penting dalam membangun kehidupan bangsa yang damai dan berkeadaban.

Pada saat yang sama, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-118 Tahun 2026 dengan tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara.” Tema tersebut menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya. Kebangkitan nasional tidak cukup dimaknai sebagai kemajuan ekonomi dan teknologi semata, tetapi juga sebagai proses memperkuat karakter, moralitas, dan persatuan kebangsaan.

Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap 20 Mei merujuk pada lahirnya Boedi Oetomo sebagai tonggak kesadaran nasional bangsa Indonesia. Kehadiran organisasi tersebut menjadi simbol tumbuhnya semangat persatuan di kalangan kaum terpelajar untuk memperjuangkan kemerdekaan melalui pendidikan dan gerakan sosial. Dalam konteks kekinian, semangat kebangkitan nasional perlu diterjemahkan sebagai upaya membangun kesadaran kolektif dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan ekonomi dan politik, tetapi juga menyangkut krisis moral, lunturnya budaya gotong royong, serta melemahnya etika komunikasi di ruang digital. Di tengah perkembangan media sosial dan tekanan kehidupan modern, banyak generasi muda mengalami kecemasan, kegelisahan, bahkan kehilangan arah hidup. Mereka menghadapi tuntutan untuk berhasil secara cepat, tekanan pencitraan di ruang digital, hingga rasa takut menghadapi masa depan. Kemajuan teknologi informasi yang tidak diimbangi dengan penguatan karakter berpotensi melahirkan generasi yang unggul secara intelektual, tetapi rapuh dalam empati, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Karena itu, pembangunan bangsa memerlukan keseimbangan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan penguatan nilai-nilai moral serta spiritual.

Menjaga Spirit Kebangkitan Bangsa

Dalam perspektif keislaman, Dzulhijah dapat dipahami sebagai madrasah ruhani yang mengajarkan pentingnya penyucian jiwa dan penguatan keimanan. Dalam kitab Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’an dijelaskan bahwa bulan-bulan haram merupakan momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah dan menjauhkan diri dari keburukan. Praktik ibadah seperti puasa sunnah, dzikir, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan kurban memiliki dimensi pendidikan spiritual yang membentuk manusia menjadi lebih disiplin, peduli, dan bertanggung jawab.

Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa juga menjelaskan bahwa sepuluh hari pertama Dzulhijah merupakan waktu terbaik untuk memperbanyak amal saleh. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian besar terhadap pembinaan moral dan spiritual manusia sebagai fondasi kehidupan sosial. Dalam konteks kebangsaan, nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral dan kepedulian sosial.

Tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” mengandung pesan bahwa menjaga generasi muda berarti menjaga arah masa depan Indonesia. Tantangan era digital menuntut hadirnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian intelektual, tetapi juga pada penguatan akhlak, literasi digital, kesehatan mental, dan cinta tanah air. Generasi muda memerlukan ruang dialog, pendampingan, serta keteladanan nyata agar mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitas moral dan budaya bangsa.

Kecemasan generasi muda sejatinya tidak cukup dijawab dengan motivasi sesaat, tetapi memerlukan lingkungan yang menghadirkan ketenangan spiritual, perhatian sosial, dan rasa kebersamaan. Spirit Dzulhijah mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan saling menguatkan melalui pengorbanan, kepedulian, dan kasih sayang terhadap sesama. Nilai inilah yang penting dihidupkan kembali dalam keluarga, sekolah, masyarakat, dan ruang digital.

Dalam khazanah budaya Bugis dikenal nilai siri’ na pacce, yaitu falsafah hidup yang menekankan kehormatan, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai tersebut mengajarkan bahwa martabat manusia harus dijaga dengan kejujuran, keberanian, dan rasa tanggung jawab sosial. Spirit siri’ na pacce menunjukkan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya lahir dari kemajuan material, tetapi juga dari karakter masyarakat yang memegang teguh amanah, persaudaraan, dan harga diri kebangsaan.

Menurut penulis, kebangkitan nasional pada hakikatnya merupakan proses membangun peradaban yang bertumpu pada persatuan, gotong royong, dan kepedulian sosial. Kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari pesatnya pembangunan dan teknologi, tetapi juga dari kualitas moral masyarakatnya. Karena itu, spirit Dzulhijah dan Hari Kebangkitan Nasional perlu dijadikan momentum untuk memperkuat iman, memperhalus akhlak, menenangkan generasi yang cemas, serta menumbuhkan kesadaran bersama dalam menjaga persatuan bangsa.

Sesungguhnya, menjaga tunas bangsa berarti mempersiapkan generasi yang berilmu, berakhlak, tangguh secara mental, dan memiliki tanggung jawab kebangsaan. Generasi semacam inilah yang diharapkan mampu menghadirkan Indonesia yang damai, bermartabat, dan berkeadaban di tengah tantangan global yang terus berkembang. Wallahu A’lam Bish-shawab. (*)

*Penulis adalah Guru MAN 2 Pontianak dan Sekretaris DPD FKOB Kota Pontianak.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed