Sambas, Media Kalbar – Stigma terhadap pasien Tuberkulosis atau TBC masih menjadi tantangan serius dalam upaya pengendalian penyakit tersebut di Kabupaten Sambas. Pemerintah Kabupaten Sambas menegaskan, penanganan TBC tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan medis, tetapi juga harus menyentuh aspek sosial, edukasi masyarakat, dan dukungan lintas sektor.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bersama pemangku kepentingan lintas sektor terkait asesmen stigma Tuberkulosis pada pasien TBC, keluarga, masyarakat, dan tenaga kesehatan di Kabupaten Sambas, Rabu, 2 Juli 2026.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Sambas, Yudi, S.Sos., M.Si. Turut hadir tim peneliti dari CV Data Narya Amerta Semesta, dr. Betty Nababan, M.Epid., PR Konsorsium Penabulu-STPI sekaligus National Program Director, serta peserta daring dari Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dan organisasi penyintas TB META Kalimantan Barat.
Dalam sambutannya, Yudi mengatakan TBC masih menjadi persoalan kesehatan serius, baik di tingkat global maupun nasional. Berdasarkan Global TB Report 2025, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 1.080.000 kasus TB dan menempati posisi kedua tertinggi di dunia setelah India.
“Angka kematian akibat TB di Indonesia juga masih tinggi, mencapai sekitar 126.000 kasus per tahun. Ini menjadi perhatian bersama agar penanganan TBC tidak hanya dilakukan dari sisi medis, tetapi juga dari sisi sosial dan lingkungan masyarakat,” ujar Yudi.
Yudi menegaskan, stigma sosial menjadi salah satu hambatan besar dalam pengendalian TBC. Masih adanya anggapan negatif terhadap pasien membuat sebagian penderita enggan memeriksakan diri, takut diketahui lingkungan sekitar, hingga terlambat mendapatkan pengobatan.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele. Sebab, stigma dapat memengaruhi keberhasilan pengobatan, memperpanjang risiko penularan, dan menghambat upaya eliminasi TBC.
“Peran pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, pemerintah desa, media, serta seluruh pemangku kepentingan sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi pasien dan penyintas TBC,” katanya.
Yudi juga menekankan bahwa keberhasilan pengobatan TBC menjadi salah satu indikator penting dalam kinerja daerah di bidang kesehatan. Karena itu, edukasi kepada masyarakat, perlindungan terhadap pasien, serta penguatan layanan kesehatan harus berjalan secara beriringan.
Melalui FGD ini, Pemkab Sambas berharap lahir masukan, pengalaman lapangan, dan rekomendasi kebijakan yang lebih tepat dalam menekan stigma terhadap pasien TBC. Forum tersebut juga diharapkan memperkuat komitmen bersama dalam mendukung target eliminasi TBC di Indonesia pada tahun 2030.
“Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, pertemuan FGD asesmen stigma Tuberkulosis pada pasien TBC, keluarga, masyarakat, dan tenaga kesehatan di Kabupaten Sambas secara resmi saya buka,” ucap Yudi.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pasien TBC bukan untuk dijauhi atau dikucilkan. Mereka perlu diberi dukungan agar berani memeriksakan diri, menjalani pengobatan sampai tuntas, sembuh, dan kembali produktif di tengah masyarakat. (Rai)










Comment